Pages

Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 April 2013

Kau Tahu, Itu Cukup


" Soon..." Panggilku saat ku lihat Soon. Ia juga baru menepi di dekat gerbang sekolah. Dia terlambat lagi. Begitupun denganku. Aku sibuk mengurusi adikku yang juga harus berangkat ke sekolah dan membawa bekalnya.
" Hey? Terlambat lagi, Jieon?" Sindirnya padaku. Seperti tak sadarkan diri bahwa ia pun lagi-lagi terlambat.
seperti biasa, kami diperbolehkan mengikuti pelajaran setelah kami menulis sebuah pernyataan " aku malu terlambat" lalu kami tempelkan pada punggung teman kami yang lain, yang juga terlambat.

Ah. Rasanya, ini memalukan sekali. Bahkan pipiku sampai kesemutan menahan geli karena berkaliku bayangkan betapa kekanakkanya aku. Umurku bahkan menginjak 19. Aku masih duduk di bangku kelas 3 Senior High School. Dua kali aku tinggal kelas saat aku di Junior High School. Sekarang, untuk naik kelas aku harus belajar mati-matian. Itu pun masih tetap membuatku berada pada peringkat terakhir.

Senja Di Musim Gugur


Tak seperti biasanya. Buku yang ku bawa banyak sekali. Bagaimana lagi, aku tak mungkin meninggalkan laptopku. Fikirku nakal, aku lebih memilih membawa laptopku daripada buku-buku pelajaran ini. Tawaku merekah. Terkekeh. Ada lomba berkaitan dengan kegemaranku, menuliskan kisahan kecil. Tadi pagi, aku menyelesaikan kisahan itu. Aku akan mengirimkan itu via e-mail nanti. Siapa tahu ada inspirasi lain di sekolah. Dan hari ini, aku sangat gembira. Aku optimis menang. Dan itu berarti, aku pun optimis bahwa aku bisa segera membeli obat untukku. Aku yakin bahwa aku pasti akan sembuh dari sakitku.

"Bagaimana cerpenmu?" Tanya Hyoo Ra padaku. Kami bertemu di jalan menuju sekolah. Dia mengenakan tas baru. Aku terbahak.
"Hey! Aku bertanya padamu." Nampaknya Ra kesal padaku. Ia menghimpun bibirnya.

Jalan Cinta


“ Jeongmalyo?” Sergah Hye In, teman satu kelasku. Ia gadis yang manis, cerdas, dan tangguh. Mengapa kukatakan bahwa ia adalah gadis yang tangguh? Karena dia adalah seorang pengidap AIDS dan ia tak pernah menyerah pada takdir yang Tuhan berikan padanya.
“ Ne. Kau tak percaya? Lihat ini.. bajuku, lihat juga lembaran tugas yang basah dengan percikan lumpur ini. Kau tahu? Ini lah kenikmatan.” Kataku.
“ Hyun Sik!!” Teriak Hye In. Ia mencubit lenganku. Aku hanya terbahak.
“ Ah. Ani- ani.. ya, sudahlah. Ini sesuatu yang wajar. Ryeon Soo juga menginginkan beasiswa itu.”
“ Tapi caranya salah! Aku benci dengan kepasrahanmu!” Bentak Hye In. Ia berlalu, mendahuluiku. Dan aku hanya tersenyum melihatnya pergi dengan kekesalan.

Aku rasa berat
Tapi ini indah
Tuhan, jaga hatiku

Selepas pelajaran pertama tadi, Ren songsaengnim memanggilku untuk ke ruangan beliau. Beliau mengatakan bahwa beliau kecewa dengan tugas yang kukerjakan. Aku tak dapat mengatakan apapun. Hanya bisa  berdiam, meski sungguh aku tak tuli. Bahkan jika Tuhan mengizinkan, aku kan meminta pada-Nya untuk membuatku tuli. Nampaknya Ia tak berkenan. Dan aku yakin, ini karena Tuhan percaya bahwa aku mampu merubah dunia.