Pages

Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 November 2014

Selaksa Asa dalam Derita

(Sebuah Puisi yang Aku Ikutkan dalam Sayembara Penulisan Puisi, dan Belum Lolos :D)

Ini bukan seikat puisi. Anggap saja sebuah novel kontemporer yang tengah naik daun
Ini bukan bait-bait syair penyanjung. Silakan lihat sebagai celoteh manusia yang darah muda tengah megalir dalam dirinya
Ketika nanti usiaku membapak. Rentan
Ketika mataku mulai rabun. Katarak bahkan
‘Kan kuceritakan bahwa orang-orang berdasi itu membawaku lari dari kemiskinan, mengajakku menjejakkan kaki di latar sekolahan. Mereka berkenan duduk mendengarkan orasiku. Tak menganggapnya sekadar teriakan mahasiswa jalang penuntut keadilan
Mereka mengakreditasikan aku dengan pangkat berwibawa. Duduk di hadapan meja. Mesin ketik berada di atasnya. Sahaja
Akan aku ceritakan bahwa orang-orang bersafari itu menghadiahiku dengan pensiunan. Memberiku kecukupan di masa senja
Akan kuceritakan. Akan aku ceritakan
Dan selaksa “akan” itu berhenti seketika. Padahal pena dan bulu angsa ini masih lebih dari cukup untuk  meneruskannya. Bahkan hingga lelah membersama. Tak kuasa.
Ya. Selaksa “akan” itu lalu tergantikan. Selaksa “asa”
Mereka tak membawaku ke mana-mana. Aku masih di sini. Papa. Alpa
Mungkin mereka tengah berdiskusi dengan diri. Tentang janji yang musti tertepati
Mungkin mereka tak bermaksud membuta dan tuli tentang jerit si miskin yang jali. Mungkin, mereka hanya terlebih dulu menyusun kurikulum menuju cita negeri
Hanya, harus berapa banyak lagi “mungkin” kira aku tetap tanamkan baik sangka dalam hati
Hingga jelata semakin melata? Hingga si buruk gizi mati sia-sia? Hingga korupsi Indonesia mendunia?
Melihat tunas tumbuh tanpa hangat surya. Melihat mereka hidup dengan mimpi yang tak nyata. Selaksa asa yang tak akan menjadi nyata. Tak bisa. Membayangkannya pun lara
BIODATA
Nama Lengkap                 : Lilis Nurhayati
Tempat, Tanggal Lahir    : Cilacap, 24 Juli 1994
Alamat                               : Jl. Masjid No. 09 Rt 01/10 Dukuh Waluh
                                             Kec. Kembaran                           Kab. Banyumas
                                             53182
No. Hp                               : +6285726510370
Akun Facebook                : Lilis Nurhayati (safar15safar@gmail.com)
Alamat E-mail                   : purnama15safar@gmail.com

NARASI SINGKAT PUISI
            “Aku” sebagai rakyat menginginkan penepatan janji para pemimpin tentang kesehatan, pendidikan, kebebasan berpendapat dan didengarkan, serta kesejahteraan. Hal-hal yang sebenarnya sangat dasar bagi sebuah bangsa. Namun yang “aku” inginkan terasa sangat mahal. “Aku” tersadar bahwa yang “aku” inginkan sekadar “asa”. Tidak akan pernah menjadi nyata. “Aku” berusaha dengan sangat keras berprasangka baik terhadap tidak ditepatinya janji manusia-manusia berdasi. Yang terjadi adalah semakin “aku” berusaha, semakin “aku” tak bisa. Karena kepemimpinan kini yang justru menyuburkan kemiskinan, kejumudan dan korupsi. “Aku” begitu takut jika yang “aku” wariskan pada generasi mendatang ternyata hanya mimpi yang tak akan pernah terjadi.


Jumat, 26 April 2013

Puisi Atau Apalah :D


engap hinggap dan mengendap
sanubari terisi sesak
rancu berpadu dengan benci
mengapa adanya dia lukai hati

hingga nampaknya
gumpalan darah ini  membusuk
menahan luka memar yang menganga tiba-tiba

esok pasti ia kembali
hanya mungkin tak jadi pasti
jika relung curam berpalung itu dimiliki lagi

hingga mati bunuh diri pun ku kaca halal
membuta semua
hingga juga tak mendengar

sekali lagi
agaknya hati memang sudah perparas benci
bukan dia yang salah
tapi aku
aku yang berani dan lancang mencintai

Rindu Mencandu

Aku mabuk
Berdiri hampir tak kuasa
Kala mata perpijak, langkah melihat
Gurat wajahmu jadi akhir yang kutuju
Tak pernah terganti

Adakah elok kunamai hatimu
Pemegang predikat rindu mencandu
Tak pernah kau buai
Tak lalu kau semai kasih
Bahkan, cinta atau bukan hatimu
Aku tak pernah Tahu

Kenal?
Rasanya tidak
Jumpa?
Tak pernah
Adakah aku gila
Atau, Kau
Sang pencuri sulaman asma rindu tak bertepi

Ada Yakin

Beratus kali aku menilik semilir dan gugur daun
Adakah sudah mereka menjawab tanya dari derita tak berujung
Mengapa mereka begitu terbuai peluk
Mungkin tak hanya mereka
Mungkin aku sempat
Tercandu dalam nikmat penghancur

Tuhan, terkadang aku pun bertanya pada hati
Untuk apa Kau ciptakan ini
Aku, hati, dan fikirku, lalu mereka

Adakah sudah Kau luangkan tempat untuk kami di neraka
Lalu adakah darah segar ini sia

Nafas kami belum singgah di kerongkongan
Adakah harus kami meyerah
Barpasrah dan mengikuti arus kenikmatan bersama

Bukankah Kau sendiri yang luangkan waktu untuk kami
Bukankah ini yang Kau maksud kesempatan perbaikan diri

Tuhan
Sungguh aku tak kan mampu tetap di sini
Dalam keadaan jiwa yang sakit ini
Dengan luka memar di sekujur nadi
Bersama kenikmatan haram tak terelakkan

Tuhan
Bawa aku pulang jika Kau tak lagi percaya
Aku mampu bertahan

Jika Kau yakin aku bisa
Firmankan dalam hatiku
Bahwa aku layak bersama dengan kebaikkan
Bahwa aku layak untuk memilih kebenaran
Bahwa aku patut untuk jadi hamba-Mu

Tuhan
Aku yakin
Kau begitu mencintaiku
Dan itu yang membuatku tetap bertahan
Meski kerikil seringkali ku jadikan pijakkan
Meski batu loncatan tak jarang membuatku tertekan

Tentang Kita :')

Bolehkah aku
Bisikkan ini untukmu

Kau lihat
Gerimis di luar sentuh lembut kaca jendela di kamarku
Aku di sini
Lihatlah
Tak dingin
Tak pula terlalu hangat

Rintik mereka mengacaukan pendengaran
Namun samar kudengar
Suara
yang ternyata lirihmu
Kau dengar bisikku dan membalasnya

"Tenanglah"
Seprti itu tuturmu
Kau bilang
Aku akan baik saja
Kau bilang
Bahwa aku akan biasa saja

Saat ini
Air netra tak dapat lagi kupendam
Aku tak mungkin bisa biasa saja

Tuhan tahu aku merindukanmu
Tuhan tahu aku merindukan masa indah
Yang belum pernah kita lewati

Lalu kau sedikit berteriak
Suaramu parau
"Jangan biarkan nafsu mengelabuhimu. Bagaimana mungkin kau merindukan sesuatu yang belum pernah kau genggam"
Itu katamu

Isakku bertambah memilukan
Lalu tiba-tiba
Terdengar suara langkah mendekat
Mendekap

Tenanglah
Tuhan pun tahu
Jika aku pun merindukan saat itu
Hanya Dia firmankan di hatiku
Untuk bertahan dalam tawakal

Masa di mana kita halal
Aku tiba di saat yang tepat
Kau akan jumpa keindahan jika kau mampu bertahan dan tetap berjuang

Saat aku memintamu memelukku
Kau pergi dan menggeleng
Hanya senyum

Aku diam dalam bisu
Aku tahu
Dan aku mau
Tuhan menitipkanku padamu
Wahai kau
Calon pendapingku
Siapapun di manapun

(mungkin) Jerit Hati Peri-Peri dalam Dekap Ilalang





















Hari ini
Aku masih bermimpi
Berlari dengan setelan merah putih
Meninggi pada putih biru lalu abu-abu
Masih bermimpi untuk menyelesaikan
Sesuatu yang kata mereka pekerjaan rumah
Masih bermimpi untuk
Menghadapi beberapa lembar kertas berisi soal
Dan satu lembar kertas jawaban
Yang kata mereka ujian



Kulakukan
Meski harus beradu dengan temaram lilin-lilin malam
Walau harus kuduakan waktu belajarku
Dengan perasan keringat untuk keping uang bayaran

Masih dalam mimpiku
Jika nanti toga kukenakan
Tak penting foto kenang-kenangan

Dan aku masih tetap bermimpi untuk itu
Meski aku tak tahu kapan aku akan terbangun
Dan mendapatinya sebagai lembar baru kehidupan
Selain angan dan sekedar keinginan